Hasil survei MBG Poltracking terbaru menempatkan program Makan Bergizi Gratis pada posisi paradox: dikenal luas, namun diikuti pertanyaan serius soal mutu pelaksanaan. Bagi pembaca di Surabaya dan Jawa Timur, data nasional ini relevan karena program menyasar pemenuhan gizi anak sekolah di seluruh wilayah, termasuk kota-kota besar di Jatim.
Lembaga Survei Poltracking Indonesia merilis temuan yang menegaskan popularitas program tetap tinggi, sementara indikasi ketidakpuasan dan keraguan terhadap kelanjutannya menguat. Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda AR, menilai gagasan program positif, tetapi pelaksanaan di lapangan mulai memengaruhi cara publik memandangnya.
Popularitas tinggi berbanding kepuasan yang menekan
Menurut pemaparan daring Poltracking, Senin (31/8/2026), popularitas MBG tercatat 93,9 persen. Dari kalangan yang mengenal program tersebut, 49,2 persen menyatakan tidak puas, sementara 46,4 persen mengaku puas. Selisih tipis itu menandai persepsi publik yang terbelah meski awareness-nya nyaris merata.
Hanta menegaskan bahwa visi program dinilai bagus, namun implementasi dinilai gagal mengejar ekspektasi. Ia menekankan perlunya perbaikan pada pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasi agar citra positif tidak terus terkikis oleh keluhan operasional.
Dukungan kelanjutan program saling berimpit
Pada pertanyaan soal masa depan program, 44,6 persen responden menilai MBG tidak perlu dilanjutkan. Di sisi lain, 42,1 persen menginginkan program tetap berjalan. Angka yang berdekatan ini menunjukkan belum ada mandat publik yang dominan untuk mempertahankan status quo tanpa perbaikan berarti.
Poltracking juga memotret tren kepuasan yang menurun bertahap. Pada Mei 2026 kepuasan berada di 51,9 persen, lalu sekitar 48 persen pada Juli 2026, dan merosot lagi menjadi 42,1 persen pada Agustus 2026. Sebaliknya, proporsi yang menolak kelanjutan program naik hingga 44,6 persen.
Metode survei dan cakupan nasional
Pengumpulan data dilakukan 14–20 Agustus 2026 terhadap 1.220 responden melalui wawancara tatap muka. Metode yang dipakai adalah stratified multistage random sampling, dengan margin of error sekitar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Sampel disebar proporsional di 38 provinsi merujuk data Daftar Pemilih Tetap 2024. Responden dipilih secara acak dan diwawancarai pewawancara terlatih dengan bantuan aplikasi, sehingga temuan merepresentasikan potret nasional, bukan hanya satu kota atau pulau.
- Popularitas MBG: 93,9 persen
- Tidak puas: 49,2 persen; puas: 46,4 persen
- Tak perlu dilanjutkan: 44,6 persen; ingin dilanjutkan: 42,1 persen
- Tren kepuasan: 51,9% (Mei) → ~48% (Juli) → 42,1% (Agustus 2026)
Saran evaluasi dan arah perbaikan tata kelola
Poltracking mendorong evaluasi menyeluruh atas pelaksanaan MBG. Salah satu opsi yang disebut adalah mengonversi skema menjadi Bantuan Langsung Tunai berbasis data terpadu, dengan catatan tetap ada pengawasan pemenuhan gizi anak. Skema itu dinilai relatif lebih aman dari sisi implementasi ketimbang risiko operasional dapur dan distribusi makanan.
Di ranah pemerintah, perbaikan tata kelola MBG sempat ditargetkan rampung dalam waktu sekitar satu bulan. Menteri Sekretariat Negara Prasetyo Hadi, saat memberikan keterangan di Jakarta pada 11 Juni 2026, menekankan program yang sudah berjalan tidak boleh terganggu, sambil menata ulang hal-hal yang bermasalah, termasuk peninjauan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang tidak sesuai SOP atau berlebih di satu wilayah.
Bagi masyarakat Surabaya, temuan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan program gizi nasional diukur bukan hanya dari seberapa dikenal namanya, melainkan dari kualitas makanan, manajemen lapangan, dan rasa keadilan layanan di sekolah-sekolah. Tanpa perbaikan konkret, popularitas tinggi berisiko tidak cukup menahan erosi kepercayaan.
Ringkasnya, survei Poltracking membingkai MBG sebagai program dengan modal visi yang kuat, tetapi menuntut koreksi implementasi segera agar dukungan publik tidak terus menyempit. Evaluasi terbuka, penertiban unit layanan, dan opsi skema alternatif layak menjadi bahan diskusi kebijakan ke depan.
Sumber: Liputan6.
