Breaking News
Indeks
Nasional

Analis AS Sebut Serangan Iran ke Pangkalan di Yordania Bertujuan Politik

Perkembangan ketegangan di Timur Tengah kembali menarik perhatian publik, termasuk pembaca di Surabaya yang memantau dampaknya pada harga energi dan stabilitas kawasan. Fokus terbaru mengarah pada penilaian pakar bahwa serangan Iran Yordania terhadap fasilitas terkait Amerika Serikat lebih bernuansa politik ketimbang manuver militer murni.

Harlan Ullman, pakar militer sekaligus pensiunan perwira senior Angkatan Laut Amerika Serikat, menilai keputusan Teheran memilih Yordania sebagai sasaran dalam aksi balasan merupakan pernyataan politik. Menurutnya, pesan itu tetap berlaku terlepas dari seberapa besar kerusakan yang dialami pasukan AS di lokasi tersebut.

Pesan politik lebih menonjol daripada target militer lain

Ullman, seperti dikutip dari laporan yang merujuk Al Jazeera, menjelaskan bahwa Iran memberi sinyal kepada Yordania bahwa negara itu masuk dalam radar sasaran. Ia membandingkan pilihan itu dengan opsi lain, misalnya pangkalan AS di Uni Emirat Arab atau Qatar, yang tidak dijadikan titik utama dalam gelombang serangan tersebut.

Menurut penjelasannya, lokasi di Yordania memiliki bobot politis yang signifikan. Niat di balik aksi itu digambarkan disengaja: bukan semata menimbulkan kerusakan pada pihak Amerika, melainkan menyampaikan pertanyaan kepada publik Yordania apakah dukungan terhadap Amerika memang ingin dipertahankan.

Eskalasi lanjutan dinilai bergantung pada langkah Washington

Sina Azodi, direktur Program Studi Timur Tengah di Universitas George Washington, menekankan bahwa apakah konflik akan memanas lagi sangat bergantung pada sikap Amerika Serikat. Ia mengingatkan, jika Washington kembali melancarkan serangan, Iran diperkirakan tidak punya banyak ruang selain membalas.

Skenario itu, kata Azodi, berpotensi membuka kembali konfrontasi militer dalam skala penuh. Penilaian ini muncul setelah rangkaian aksi saling serang yang menandai lonjakan kekerasan pertama antara kedua pihak sejak akhir Juli.

Kronologi singkat serangan ke dua pangkalan di Yordania

Sebelumnya, Iran menyatakan meluncurkan rudal ke dua pangkalan AS di Yordania setelah serangan AS terhadap Pulau Larak di Iran selatan pada hari Minggu sebelumnya. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam pernyataan yang dilaporkan kantor berita Iran menyebut operasi gabungan rudal dan pesawat nirawak dengan nama “Hukuman bagi Agresor”.

IRGC menyebut sasaran mencakup pangkalan King Hussein dan Al Azraq. Klaim resmi mereka menyebutkan infrastruktur teknis dan perbaikan serta lokasi penempatan pesawat tempur mengalami kerusakan berarti. Di sisi lain, militer Yordania menyatakan sistem pertahanan udara mencegat delapan rudal yang memasuki wilayah udara kerajaan pada dini hari Senin. Tidak ada laporan korban luka di kedua pangkalan tersebut.

Insiden tambahan di Selat Hormuz dan konteks bagi pembaca Indonesia

Pada perkembangan Senin, IRGC juga menyatakan menembak jatuh pesawat nirawak MQ-9 Reaper milik AS di atas Selat Hormuz. Jalur laut itu krusial bagi pasokan energi global, sehingga setiap eskalasi di sekitarnya biasanya diikuti kewaspadaan pasar minyak—isu yang kerap terasa di harga BBM dan biaya logistik hingga ke kota-kota seperti Surabaya.

  • Pakar menilai motif utama serangan ke Yordania bersifat politis.
  • Dua pangkalan yang disebut: King Hussein dan Al Azraq.
  • Yordania mengklaim mencegat delapan rudal; belum ada laporan korban.
  • Eskalasi berikutnya dinilai bergantung respons Amerika Serikat.

Bagi publik Jawa Timur, pantauan terhadap konflik ini tetap relevan karena keterkaitan tidak langsung dengan stabilitas harga energi dan rantai pasok. Meski episentrumnya jauh di Timur Tengah, sinyal politik antarnegara besar sering berimbas pada sentimen pasar yang ikut dibaca pelaku usaha di pelabuhan dan kawasan industri Surabaya.

Hingga laporan ini disusun, penilaian Ullman dan Azodi menjadi rujukan utama untuk memahami bahwa pilihan sasaran Iran dibaca sebagai komunikasi politik kepada Amman, sementara risiko konfrontasi lebih luas masih digantungkan pada langkah berikutnya dari pihak Amerika. Pemantauan berimbang atas klaim IRGC, pernyataan Yordania, serta analisis pakar tetap diperlukan agar pembaca tidak terjebak spekulasi berlebihan.

Sumber: Sindo News.

Tag: serangan Iran, Yordania, pangkalan AS, Harlan Ullman, IRGC, Timur Tengah, eskalasi militer, Selat Hormuz