Temuan terbaru lembaga survei Poltracking Indonesia menjadi sorotan publik, termasuk di kalangan pembaca Surabaya, setelah Direktur Eksekutif Hanta Yuda menyampaikan bahwa tingkat approval pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka masih memiliki ruang untuk naik kembali. Penilaian itu disampaikan dalam rilis Survei Nasional bertajuk Membaca Tren Kepuasan Publik Pemerintahan Prabowo-Gibran pada Senin, 31 Agustus 2026.
Hanta menegaskan, pemerintah tidak sedang menghadapi krisis kepercayaan. Yang muncul justru sinyal waspada terkait potensi pelemahan kepuasan. Angka kepercayaan publik tercatat 63,2 persen, sementara approval berada di 55,1 persen. Selisih itulah yang disebut sebagai ruang recovery yang realistis bila respons kebijakan tepat dan cepat.
Ruang pemulihan di antara trust dan approval
Menurut Hanta, jarak antara kepercayaan dan kepuasan publik bukan petanda keruntuhan legitimasi, melainkan alarm untuk memperbaiki performa yang dirasakan warga sehari-hari. Selama kepercayaan masih relatif solid, pemerintah dinilai punya modal politik untuk mengembalikan approval ke jalur yang lebih tinggi.
Bagi masyarakat urban seperti di Surabaya, isu kepuasan biasanya terkait langsung dengan layanan yang terasa: harga kebutuhan, kepastian hukum, kualitas layanan publik, serta stabilitas keamanan. Karena itu, pesan Poltracking soal recovery approval beririsan dengan harapan warga kota terhadap hasil kerja yang lebih terasa di lapangan.
Sektor fundamental masih mencatat angka impresif
Meski ada catatan evaluasi, respons masyarakat terhadap sejumlah sektor dasar dinilai masih positif. Poltracking mencatat kinerja di bidang pendidikan, sosial budaya, kesehatan, serta pertahanan dan keamanan berhasil menembus tingkat kepuasan di atas 60 persen.
Capaian itu menunjukkan fondasi layanan publik belum ambruk. Namun, fondasi yang relatif baik tidak otomatis menahan penurunan approval bila isu-isu sensitif lain dibiarkan menumpuk. Karena itu, Hanta menekankan pentingnya eksekusi agenda perbaikan secara menyeluruh, bukan sekadar menjaga sektor yang sudah berjalan baik.
Lima agenda strategis harus segera dieksekusi
Inti rekomendasi Poltracking adalah keharusan pemerintah mengeksekusi lima agenda strategis dalam waktu dekat. Tanpa percepatan tindak lanjut, ruang recovery yang masih terbuka bisa menyempit. Hanta menekankan peluang kenaikan approval sangat mungkin, tetapi bergantung pada keseriusan perbaikan yang terukur.
Dalam wacana publik yang menyertai rilis survei tersebut, pembenahan di ranah hukum dan pemberantasan korupsi kerap disebut sebagai salah satu jalur yang dapat mengerek kembali kepuasan. Perbaikan pada titik-titik krusial itu dinilai berpotensi memperkecil jarak antara rasa percaya dan rasa puas terhadap pemerintahan.
- Menjaga kepercayaan publik yang masih berada di level 63,2 persen
- Mengerek approval dari posisi 55,1 persen melalui kebijakan yang terasa dampaknya
- Mempertahankan kinerja sektor pendidikan, kesehatan, sosial budaya, serta hankam
- Mempercepat eksekusi lima agenda strategis yang direkomendasikan lembaga survei
Implikasi bagi pemantau kebijakan di daerah
Bagi pemantau kebijakan di Jawa Timur, termasuk Surabaya, survei nasional semacam ini menjadi barometer awal sebelum dampak kebijakan pusat terbaca di tingkat kota. Angka kepuasan yang bergerak di level nasional biasanya lebih dulu memengaruhi persepsi publik, lalu diuji lewat pengalaman layanan sehari-hari di daerah.
Dengan kata lain, peluang pemulihan approval tidak hanya soal komunikasi politik di Jakarta. Ia juga soal konsistensi implementasi di daerah, kejelasan program, serta kemampuan pemerintah menjawab keluhan yang paling dekat dengan hajat hidup orang banyak. Selama trust masih lebih tinggi dari approval, kesempatan memperbaiki citra kinerja masih ada—asal diisi dengan tindakan konkret.
Secara keseluruhan, pesan utama Poltracking relatif gamblang: pemerintahan Prabowo-Gibran belum kehilangan kepercayaan publik, tetapi harus segera merespons alarm kepuasan. Lima agenda strategis yang disebut Hanta Yuda menjadi ujian berikutnya, apakah ruang recovery benar-benar dimanfaatkan atau justru dibiarkan menyempit.
Sumber: Sindo News.
