Kabar tentang bitcoin hilang pulih kembali menarik perhatian publik, termasuk pembaca di Surabaya yang mengikuti dinamika aset digital. Seorang pria asal Inggris yang memilih tetap anonim berhasil menguasai lagi kepemilikan Bitcoin yang sempat terkunci selama 12 tahun, dengan nilai terkini sekitar 3,3 juta pounds atau setara Rp78,9 miliar.
Pembelian awal dilakukan pada 2011, saat harga Bitcoin masih jauh dari sorotan arus utama. Ia menggelontorkan 1.500 pounds—kira-kira Rp35,8 juta atau sekitar 2.400 dolar AS—setelah mendapat saran dari rekannya. Keputusan itu terasa biasa saja kala itu, namun berujung pada kejutan finansial bertahun-tahun kemudian.
Bursa tutup dan akses aset terputus
Masalah muncul ketika bursa tempat transaksi, Intersango, menghentikan operasional pada 2014. Tidak adanya payung regulasi resmi dari Financial Conduct Authority (FCA) di Inggris membuat nasabah kesulitan menuntut kepastian. Aset digital milik pria tersebut ikut terkunci dan lama dianggap hangus.
Di periode yang sama, tekanan biaya hidup semakin terasa. Ia menanggung pengobatan orang tua yang sudah lansia serta biaya kuliah anak-anak. Setiap kali harga Bitcoin melonjak di berita, rasa frustasi datang. Ia bahkan mengakui berhenti memantau pergerakan pasar karena yakin koinnya sudah tidak bisa disentuh.
Email klaim sempat dikira penipuan
Pada 2018, pesan elektronik dari pihak yang terkait pendiri bursa sempat masuk ke kotak masuknya. Isinya mengarah pada peluang mengklaim aset. Karena waspada terhadap modus penipuan, ia menghapus email itu tanpa menindaklanjuti.
Dorongan istri menjadi titik balik. Ia akhirnya menghubungi CEL Solicitors, firma hukum yang fokus pada pemulihan aset kripto. Proses legal berjalan dalam hitungan bulan hingga akses terhadap Bitcoin berhasil dikembalikan secara sah dan ditempatkan di bursa yang terdaftar.
Nilai astak dan rencana penggunaan dana
Dengan kurs sekitar Rp23.922 per pound, total 3,3 juta pounds setara kurang lebih Rp78,9 miliar. Lompatan nilai dari modal awal 1.500 pounds memperlihatkan betapa ekstremnya perjalanan harga Bitcoin dalam satu dekade lebih.
Meski dompet kini aman, kebiasaan cek berulang belum hilang. Ia mengaku membuka akun hingga 20 kali sehari karena khawatir peretas. Rencana pencairan sebagian dana sudah disusun: membeli rumah lebih luas untuk ibu mertua yang sedang sakit, membiayai liburan keluarga, dan menggelar perayaan sederhana.
- Modal awal 2011: 1.500 pounds
- Bursa Intersango berhenti beroperasi: 2014
- Email klaim sempat diabaikan: 2018
- Nilai setelah pulih: sekitar 3,3 juta pounds atau Rp78,9 miliar
Pelajaran bagi investor kripto di tanah air
Bagi komunitas di Surabaya dan Jawa Timur yang aktif di pasar kripto, kisah ini mengingatkan pentingnya menyimpan bukti kepemilikan, frasa pemulihan, serta riwayat platform secara rapi. Bursa yang tidak berizin atau tutup mendadak bisa memutus akses bertahun-tahun, meski aset secara teknis masih “ada” di jaringan.
Langkah hukum melalui profesional berpengalaman terbukti menjadi jembatan, bukan spekulasi liar di media sosial. Mengabaikan komunikasi resmi karena takut scam memang wajar, tetapi verifikasi lewat kanal terpercaya tetap diperlukan agar peluang pemulihan tidak terlewat.
Kisah pria Inggris tersebut menutup bab panjang ketidakpastian dan membuka bab baru pengelolaan kekayaan digital. Dari investasi kecil di era awal Bitcoin hingga nilai miliaran rupiah hari ini, perjalanan itu menegaskan bahwa dokumentasi, kehati-hatian, dan bantuan hukum yang tepat sama pentingnya dengan timing pasar.
Sumber: Sindo News.
