Breaking News
Indeks
Nasional

Diam Para Pendukung Dinilai Awal Runtuhnya Kekuatan Besar

Pembahasan soal kelemahan kekuatan besar kembali mengemuka lewat bedah buku The Secret Weakness of Every Great Power karya Eko Surya Lesmana di Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang, Sabtu (29/8/2026). Gagasan inti yang diangkat bukan soal serangan musuh dari luar, melainkan erosi dukungan di dalam tubuh kekuasaan itu sendiri. Bagi pembaca di Surabaya dan Jawa Timur, tema ini menarik karena menyentuh cara pemimpin membaca suasana diam di lingkungan birokrasi, komunitas, maupun organisasi publik.

Eko Surya Lesmana, yang menjabat Deputi Bidang Manajemen Risiko di Badan Pengelola Keuangan Haji, menekankan bahwa keruntuhan sering dimulai jauh sebelum krisis terbuka. Ketika orang-orang di dalam lingkaran berhenti memberi dukungan secara sukarela dan memilih bungkam, fondasi legitimasi perlahan retak. Kesunyian itu, menurutnya, kerap disalahartikan sebagai tanda setuju.

Inti gagasan: sunyi bukan berarti patuh

Dalam paparannya, Eko mengingatkan bahwa pemimpin bisa merasa makin kokoh justru karena bantahan tak lagi terdengar. Padahal absennya kritik bisa menandai hilangnya kepercayaan, bukan soliditas. Ruang rapat yang hening belum tentu berisi kepala yang sejalan; bisa jadi berisi hati yang sudah berhenti ikut memikirkan persoalan bersama.

“Diam sering menjadi tanda yang paling awal. Ruangan yang sunyi belum tentu berisi kepala yang setuju. Bisa jadi ruangan itu berisi hati yang sudah berhenti ikut memikirkan masalah yang sedang kita hadapi,” ujar Eko dalam forum tersebut. Kutipan itu menjadi penanda bahwa kelemahan tersembunyi kekuatan besar justru lahir dari dalam.

Mengapa tema ini relevan bagi publik Surabaya

Meskipun acara berlangsung di Jakarta, pelajaran manajerialnya bersifat lintas kota. Di lingkungan pemerintahan daerah, kampus, BUMD, hingga komunitas warga Surabaya, pola diam kolektif sering muncul saat kebijakan dirasa tak lagi mewakili aspirasi. Membaca sinyal itu lebih awal dapat mencegah pembiaran yang berujung pada hilangnya legitimasi sosial.

Pembaca lokal dapat menempatkan gagasan buku ini sebagai cermin: apakah forum-forum publik masih memberi ruang sanggahan yang sehat, atau justru mendorong orang berpaling diam karena merasa suaranya tak dihitung. Pendekatan itu tidak mengada-ada peristiwa baru, melainkan menerjemahkan kerangka buku ke konteks kepemimpinan kota yang sehari-hari berhadapan dengan warga.

Profil penulis dan konteks bedah buku

Eko Surya Lesmana menulis The Secret Weakness of Every Great Power dengan latar pengalaman di bidang manajemen risiko keuangan haji. Bedah buku di Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang menjadi ruang untuk menguji gagasan tersebut di hadapan publik. Fokusnya tetap pada dinamika internal: dukungan sukarela, kepercayaan, dan bahaya menafsirkan keheningan sebagai loyalitas.

Diskusi semacam ini menempatkan literatur kepemimpinan di luar sekadar tip teknis. Yang ditawarkan adalah kerangka membaca gejala sosial-politik sebelum krisis membesar. Bagi pengambil keputusan di daerah, kerangka itu bisa menjadi pengingat untuk menjaga kanal umpan balik tetap hidup.

Sinyal internal yang perlu diwaspadai pemimpin

Dari uraian bedah buku, beberapa sinyal dapat diringkas tanpa menambah fakta di luar sumber. Pertama, berkurangnya sanggahan terbuka di forum formal. Kedua, dukungan yang hanya bersifat prosedural, bukan sukarela. Ketiga, pemimpin yang semakin jarang mendengar kabar buruk dari lingkaran terdekat.

  • Diam kolektif di ruang keputusan sering disalahbaca sebagai konsensus.
  • Kepercayaan publik terkikis lebih dulu di dalam sebelum terlihat dari luar.
  • Kekuatan besar rentan saat kritik internal dimatikan secara halus.

Dengan memetakan sinyal tersebut, pemimpin di tingkat kota maupun provinsi dapat mengevaluasi kualitas partisipasi, bukan sekadar menghitung kehadiran fisik di rapat. Pendekatan ini sejalan dengan semangat buku: kelemahan tersembunyi justru tumbuh saat suara dalam negeri meredup.

Menjaga ruang kritik agar legitimasi tidak retak

Pesan praktis yang dapat dipetik pembaca Surabaya adalah pentingnya merawat ruang bantahan yang beradab. Ketika warga, staf, atau mitra masih bersedia menyampaikan keberatan, itu indikasi bahwa mereka masih merasa menjadi bagian dari solusi. Sebaliknya, keheningan massal pantas dibaca sebagai peringatan dini, bukan kenyamanan.

Bedah buku Eko Surya Lesmana pada 29 Agustus 2026 itu pada akhirnya mengajak publik meninjau ulang cara memahami soliditas kekuasaan. Kekuatan yang tampak tenang di permukaan bisa saja sedang kehilangan energi dukungan dari dalam. Menyimak gagasan tersebut membantu pembaca membedakan ketenangan yang sehat dari sunyi yang berbahaya.

Sebagai penutup, literatur ini memperkaya wacana kepemimpinan di Indonesia dengan sudut pandang risiko internal. Tanpa perlu menunggu guncangan eksternal, evaluasi atas pola diam dan partisipasi sukarela sudah bisa dilakukan di tingkat lokal. Itulah nilai berita yang patut dicatat dari forum di Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang tersebut.

Sumber: Sindo News.

Tag: bedah buku, Eko Surya Lesmana, kepemimpinan, kekuatan besar, manajemen risiko, Perpustakaan Jakarta, legitimasi publik, Surabaya