Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 di Jombang, Jawa Timur, menjadi ruang diskusi soal arah pengabdian warga nahdliyin. Fokus pembicaraan mengarah pada khidmah NU yang berpijak pada ketulusan, keseimbangan sikap, dan manfaat luas bagi umat serta bangsa. Isu itu relevan bagi pembaca di Surabaya dan sekitarnya, mengingat peran warga NU di kawasan metropolitan dan kampus-kampus Jatim.
Pengasuh Pondok Pesantren Alhamidiyah, Lasem, Rembang, Jawa Tengah, Arwani Thomafi, menyampaikan pandangan tersebut dalam forum bertema “Ber-NU untuk Kemaslahatan Umat” di arena muktamar. Ia juga menjabat Mustasyar PWNU DKI Jakarta. Hadir pula Komisaris Utama PT ASDP Achmad Baidowi, Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV Arya Sandiyudha, serta akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, Mustafa.
Orientasi pengabdian yang menjangkau umat dan bangsa
Menurut Arwani, berkhidmah di tubuh NU bukan sekadar aktivitas organisasi. Pengabdian itu memuat dimensi keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Fondasi nilai diperlukan agar perjalanan ber-NU tetap mengutamakan kemaslahatan bersama dan menjaga persatuan, bukan terjebak pada kepentingan sesaat.
Pesan itu disampaikan di tengah rangkaian Muktamar ke-35 yang digelar di Jombang. Forum semacam ini menjadi ajang mengingatkan kader dan pengurus agar pengabdian tetap jernih arahnya, terutama ketika organisasi menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks di Jawa Timur maupun secara nasional.
Lima mutiara Madarij al-Khidmah yang digarisbawahi
Arwani menyebut lima mutiara atau Madarij al-Khidmah yang perlu dijaga dan dihidupkan dalam praktik sehari-hari warga NU. Kelima pedoman itu mencakup keikhlasan dalam pengabdian, penetapan Ahlussunnah wal Jamaah sebagai rujukan beramal, penempatan ulama sebagai pembimbing umat, pemeliharaan ukhuwah, serta penguatan semangat nasionalisme atau hubbul wathon.
Kelima unsur tersebut digambarkan saling menguatkan. Keikhlasan menjaga niat tetap bersih. Manhaj Ahlussunnah wal Jamaah memberi kerangka amaliah yang jelas. Ulama menjadi penuntun agar langkah organisasi tidak melenceng. Ukhuwah merawat kohesi internal. Semangat cinta tanah air menempatkan khidmah NU dalam kerangka kebangsaan.
- Keikhlasan dalam berkhidmah
- Ahlussunnah wal Jamaah sebagai pedoman amal
- Ulama sebagai pembimbing umat
- Pemeliharaan ukhuwah
- Semangat hubbul wathon atau nasionalisme
Suara dari Surabaya dalam diskusi kemaslahatan
Kehadiran akademisi UNU Surabaya, Mustafa, memberi warna lokal bagi warga Surabaya yang mengikuti perkembangan muktamar. Keterlibatan perguruan tinggi berbasis NU di kota pahlawan menegaskan bahwa perumusan arah khidmah tidak hanya urusan pengurus pusat, tetapi juga ruang akademik dan komunitas di daerah.
Bagi pembaca di Surabaya, penekanan pada kemaslahatan umat dan persatuan selaras dengan dinamika sosial kota yang majemuk. Nilai ukhuwah dan hubbul wathon dapat menjadi rujukan praktis dalam kerja sosial, pendidikan, dan kegiatan kemasyarakatan yang banyak digawangi jaringan NU di Jawa Timur.
Menjaga ketulusan di tengah tantangan zaman
Arwani menekankan bahwa nilai-nilai tersebut harus diaktualisasikan, bukan hanya dihafalkan. Khidmah yang bertumpu pada ketulusan dan keseimbangan sikap diharapkan memperluas manfaat bagi umat. Tanpa fondasi itu, pengabdian berisiko kehilangan arah ketika organisasi berhadapan dengan isu-isu kontemporer.
Diskusi di Jombang ini menegaskan ulang bahwa ber-NU adalah ikhtiar panjang. Lima mutiara yang dipaparkan menjadi pengingat bagi kader di Surabaya, Jombang, dan seluruh Jawa Timur agar pengabdian tetap berorientasi pada kemaslahatan, bukan polarisasi.
Dengan mengaitkan manhaj keagamaan, bimbingan ulama, ukhuwah, dan cinta tanah air, arah khidmah NU di Muktamar ke-35 digambarkan tetap berpijak pada akar tradisi sekaligus relevan bagi kebutuhan bangsa masa kini.
Sumber: Sindo News.
