Ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan, menempatkan kesehatan anak karhutla sebagai isu yang mendesak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merespons kondisi ini dengan rekomendasi langkah yang bisa diterapkan keluarga agar anak tetap terlindungi dari polusi udara ekstrem. Bagi pembaca di Surabaya, panduan ini relevan sebagai bekal kewaspadaan, terutama bila kualitas udara memburuk atau keluarga bepergian ke daerah terdampak.
Anak-anak masuk kelompok paling rentan karena sistem pernapasan dan daya tahan tubuhnya masih berkembang. Paparan partikel asap dalam jangka panjang berisiko mengganggu kenyamanan bernapas, memicu iritasi, hingga memengaruhi aktivitas harian dan tumbuh kembang. Karena itu, IDAI menekankan pencegahan di tingkat rumah tangga, bukan hanya mengandalkan penanganan di lapangan.
Inti rekomendasi IDAI untuk keluarga
Rekomendasi tersebut dipublikasikan IDAI melalui akun Instagram resmi organisasi. Isinya menekankan rangkaian tindakan praktis: mengurangi kontak anak dengan udara luar, menjaga ruang dalam rumah tetap tertutup, serta menekan sumber polusi tambahan di dalam hunian. Pendekatan ini ditujukan agar orangtua punya acuan jelas saat kabut asap tebal berlangsung berhari-hari.
Pesan utamanya sederhana namun konsisten. Selama krisis asap, anak sebaiknya beraktivitas di dalam ruangan. Pintu dan jendela dijaga tertutup rapat agar partikel polutan tidak mudah masuk. Langkah ini menjadi fondasi sebelum keluarga menambah alat bantu kebersihan udara.
Menjaga kualitas udara di dalam rumah
IDAI menganjurkan pemanfaatan pendingin ruangan pada mode sirkulasi udara tertutup agar udara luar tidak terus-menerus tersedot masuk. Penggunaan pemurni udara atau air purifier juga disarankan untuk membantu menyaring partikel halus di ruang keluarga, kamar anak, dan area tempat anak banyak menghabiskan waktu.
Kebersihan filter AC dan purifier perlu diperhatikan agar perangkat benar-benar bekerja optimal. Ventilasi dibuka hanya bila kondisi di luar sudah jauh membaik dan otoritas setempat menyatakan kualitas udara relatif aman. Di kota besar seperti Surabaya, kebiasaan memantau indeks kualitas udara harian bisa membantu keluarga memutuskan kapan anak boleh bermain di luar.
Aktivitas yang sebaiknya ditunda sementara
Selain membatasi keluar rumah, IDAI mengingatkan agar kegiatan di luar ruangan dihentikan sementara selama kabut asap masih mengganggu. Olahraga pagi, bermain di halaman, hingga perjalanan tidak mendesak sebaiknya ditunda agar paru-paru anak tidak terpapar berulang.
Di dalam rumah, aktivitas rumah tangga yang berpotensi menambah polusi indoor juga perlu dikurangi. Contohnya membakar sampah, menggoreng dengan asap tebal tanpa pengaturan, atau memakai bahan yang menimbulkan asap dan debu berlebih. Tujuannya menjaga “ruang aman” anak tetap bersih relatif terhadap udara luar yang sudah tercemar.
- Batasi anak bermain dan berolahraga di luar rumah saat asap pekat.
- Tutup pintu serta jendela; utamakan sirkulasi internal yang terkendali.
- Aktifkan AC mode tertutup dan pertimbangkan air purifier.
- Hentikan sementara kegiatan yang menambah asap atau debu di dalam rumah.
Pemantauan gejala dan kesiapan orangtua di Surabaya
Orangtua perlu mengamati tanda gangguan pernapasan pada anak, seperti batuk lebih sering, napas berbunyi, mudah lelah, atau keluhan mata dan tenggorokan. Jika anak memiliki riwayat asma atau alergi, kewaspadaan harus ditingkatkan dan obat rutin disiapkan sesuai anjuran dokter yang merawat.
Di lingkungan urban Surabaya, keluarga dapat menyiapkan ruang tidur anak yang lebih tertutup, memastikan hidrasi cukup, serta mengatur jadwal sekolah atau les agar tidak memaksa paparan pagi hari saat asap kerap mengentap. Informasi resmi dari pemerintah daerah dan lembaga kesehatan tetap menjadi rujukan sebelum memutuskan aktivitas luar ruang kembali normal.
Karhutla memang berdampak langsung pada ekosistem, namun dampak pada anak sering terasa lebih cepat di ruang keluarga. Dengan mengikuti arahan IDAI—membatasi paparan luar, mengendalikan udara indoor, menunda aktivitas berisiko, dan memantau gejala—orangtua punya kerangka kerja yang jelas untuk melindungi anak tanpa menunggu kondisi membaik seketika. Konsistensi di rumah tangga tetap kunci utama selama musim asap berlangsung.
Sumber: Sindo News.
