Penutupan gunung Bandung di kawasan hutan Bandung Utara kembali menjadi perhatian wisatawan, termasuk pendaki dari Surabaya dan Jawa Timur yang kerap menjadwalkan perjalanan ke Jawa Barat. Empat jalur pendakian ditutup sementara agar risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak membesar di tengah musim kemarau panjang yang diperkuat fenomena El Nino.
Kebijakan itu merujuk pada surat edaran Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang kemudian diikuti arahan Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Barat dan Banten serta Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bandung Utara. Langkah pencegahan dinilai mendesak karena aktivitas manusia di jalur pendakian berpotensi memicu api pada serasah kering.
Empat lokasi yang sementara tidak dibuka
Jalur yang ditutup mencakup Gunung Manglayang di Kabupaten Bandung, Gunung Burangrang yang berada di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Purwakarta, kawasan Cikole di Kabupaten Bandung Barat melalui Trek 11 Sukawana serta Lorong Lumut, dan Gunung Palasari di Kabupaten Subang. Seluruhnya masuk wilayah pantauan hutan Bandung Utara.
Kepala Sub Seksi Hukum Kepatuhan Agraria dan Komunikasi Perusahaan Perum Perhutani KPH Bandung, Endan Cahyadi, menegaskan penutupan bersifat sementara dan menyesuaikan kondisi cuaca. Surat edaran gubernur tidak mencantumkan tanggal berakhir yang pasti karena durasi kemarau sulit diprediksi secara akurat.
Bagi warga Surabaya yang merencanakan libur panjang ke kawasan Bandung Raya, informasi ini penting agar itinerary tidak bentrok dengan larangan masuk. Pengelola mengingatkan bahwa aktivitas berdurasi lama, terutama berkemah, dilarang karena api dari kompor atau puntung rokok sangat berisiko menyulut semak kering.
Luas hutan dan titik rawan kebakaran
Kawasan hutan Bandung Utara secara administratif mencakup sekitar 20.500 hektare. Rentangnya dimulai dari Batu Kuda, Ujungberung, Kabupaten Bandung; berlanjut ke Cikole hingga Rajamandala di Kabupaten Bandung Barat; kawasan Cisalak–Serangpanjang di Kabupaten Subang; serta Wanayasa di Kabupaten Purwakarta.
Dari total luasan itu, sekitar 75 persen berstatus hutan lindung dan 25 persen merupakan hutan produksi yang banyak berada di wilayah Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Potensi karhutla dinilai paling tinggi di hutan produksi karena didominasi pohon jati. Guguran daun kering atau serasah di lantai hutan sangat tebal dan mudah terbakar saat kelembapan udara rendah.
Fakta sebaran tersebut menjelaskan mengapa penutupan tidak hanya menyasar puncak gunung populer, tetapi juga koridor trek yang berbatasan dengan blok produksi. Pengawasan diperketat agar tidak ada celah masuk dari jalur setapak yang tidak resmi.
Patroli gabungan dan pengawasan sepanjang hari
Perhutani bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), TNI, Polri, BPBD, serta tokoh masyarakat melakukan patroli rutin di kawasan hutan. LMDH menyampaikan laporan berkala setiap pagi dan malam kepada internal Perhutani. Pengawasan digelar 1×24 jam untuk memantau jalur legal maupun ilegal.
Antisipasi terhadap pendaki yang mencoba masuk lewat jalur liar menjadi bagian dari protokol pencegahan. Koordinasi lintas pihak dilanjutkan agar gangguan yang berpotensi memicu api dapat ditekan sejak dini, sebelum api menjalar ke blok yang sulit dijangkau.
- Patroli gabungan Perhutani, LMDH, TNI, Polri, dan BPBD
- Laporan situasi hutan setiap pagi dan malam
- Pemantauan jalur resmi dan jalur tidak resmi
- Larangan aktivitas lama seperti camping di area rawan
Peralatan pemadam dan tantangan medan
Jika kebakaran tetap terjadi, pemadaman dilakukan secara manual. Mobil pemadam kebakaran sulit masuk ke dalam blok hutan yang berlereng curam dan berkontur sempit. Petugas Polhut dan LMDH dibekali jet shooter atau pompa punggung serta mesin pompa air portabel berselang panjang.
Kendaraan operasional Polhut juga telah dimodifikasi dan dilengkapi toren air sebagai cadangan di lapangan. Kesiapan alat itu dilengkapi dengan pemetaan titik rawan agar respons lebih cepat ketika asap atau bara terdeteksi di kawasan Bandung Utara.
Bagi komunitas pendaki di Surabaya dan kota-kota lain di Jawa Timur, penutupan ini menjadi pengingat untuk selalu mengecek status jalur sebelum berangkat, mematuhi imbauan pengelola, serta menunda perjalanan ke empat lokasi tersebut sampai kondisi cuaca dan status kawasan dinyatakan aman kembali.
Penutupan sementara empat gunung di Bandung Utara merupakan langkah pencegahan berbasis risiko musim kemarau. Selama status belum dibuka, destinasi alternatif di luar kawasan rawan karhutla lebih disarankan, sambil terus mengikuti perkembangan resmi dari Perhutani dan pemerintah daerah setempat.
Sumber: Republika.
