Breaking News
Indeks
Nasional

Gempa NTT Rusak Fasilitas Kesehatan, Pasien Dirawat di Tenda

Dampak gempa NTT Magnitudo 7,7 tidak hanya meruntuhkan bangunan hunian, tetapi juga memukul layanan kesehatan publik di sejumlah kabupaten di Flores. Rumah sakit dan puskesmas mengalami kerusakan, sehingga penanganan pasien harus dipindah ke tenda darurat. Bagi pembaca di Surabaya dan Jawa Timur, situasi ini menjadi pengingat betapa cepatnya infrastruktur vital bisa lumpuh saat bencana besar terjadi di kawasan timur Indonesia.

Sejumlah tenaga medis di wilayah terdampak harus berpacu dengan waktu. Mereka menyelamatkan pasien, mengumpulkan alat yang masih bisa dipakai, serta menunggu bantuan yang hingga beberapa hari setelah guncangan masih belum merata sampai ke pelosok.

Kerusakan berat di RSUD Ruteng dan rumah sakit lain

Di Kabupaten Manggarai, kondisi RSUD Ruteng dilaporkan terdampak hebat. Atap dan tembok roboh membuat ruang operasi, ruang bersalin, farmasi, hingga laboratorium kehilangan fungsi. Pegawai kehumasan rumah sakit, Rista Mari, menjelaskan pihaknya mendirikan tenda darurat sambil menyiapkan ruang medis pengganti sebagai langkah sementara.

Per Minggu (16/8) siang, masih ada 32 pasien yang dirawat di tenda darurat, termasuk empat orang korban gempa. Satu di antaranya mengalami patah tulang dan membutuhkan penanganan segera. Sebagian pasien lain merasa tidak nyaman dan meminta pulang karena situasi yang sangat sulit. Tim rumah sakit juga berusaha merapikan sisa peralatan medis yang masih berfungsi sambil mengharapkan kedatangan bantuan tenaga kesehatan.

Data Kementerian Kesehatan per Sabtu (15/8) mencatat 21 rumah sakit terkena imbas gempa. Enam mengalami rusak ringan dan tiga berstatus parah. Kerusakan berat tercatat di RSUD Ruteng (Manggarai) serta RS Pratama Raja dan RS Aeramo di Kabupaten Nagekeo. Evakuasi pasien juga terlihat di halaman RS Siloam Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Puluhan puskesmas terganggu di Ngada dan sekitarnya

Dari 190 puskesmas yang terdaftar, sekitar 57 mengalami kerusakan ringan hingga berat. Sebaran kerusakan meliputi Kabupaten Nagekeo, Manggarai Barat, Manggarai Timur, dan Ngada. Di Kabupaten Ngada, warga Charles Abar menuturkan layanan di beberapa puskesmas tidak lagi berjalan normal di dalam gedung.

Di Puskesmas Ladja, Golewa Selatan, penanganan pasien dipindah ke halaman luar karena bangunan rusak; tenda darurat menjadi ruang perawatan sementara. Pemandangan serupa terjadi di Puskesmas Maronggela, Riung Barat, yang hampir rusak di setiap sisi. Banyak peralatan tidak berfungsi akibat reruntuhan, sehingga petugas hanya mengandalkan perkakas seadanya. Bantuan medis, menurut keterangan warga setempat saat itu, belum tiba.

Puskesmas Pota dan Dampek hancur, akses sempat terputus

Wilayah yang termasuk paling parah adalah Kelurahan Pota dan Dampek di Kabupaten Manggarai Timur. Puskesmas di kedua lokasi itu hancur, sementara listrik dan komunikasi sempat terputus. Dokter Alhamzah yang bertugas di Puskesmas Lalang menerima kabar dari rekan di Pota dan Dampek bahwa tenaga medis kewalahan; jumlah petugas tidak sebanding dengan korban yang terus berdatangan.

Menurut Alhamzah, di Dampek dan Pota masing-masing hanya ada dokter yang bekerja sendiri dan kehilangan sinyal, sehingga hampir tidak ada bantuan dari luar sejak guncangan. Akses jalan sempat terhalang longsor batu besar; setelah dibersihkan, ambulans baru bisa masuk. Pesan dari dokter Melinda yang beredar menyebut puskesmas hancur dan memohon relawan serta obat-obatan.

Perkembangan berikutnya, posko bantuan dan medis didirikan di Pota oleh tim SAR bersama relawan. Di Dampek, bantuan dari rumah sakit umum daerah dikabarkan sudah didistribusikan. Tantangan lanjutan adalah pendataan korban karena banyak warga melarikan diri ke gunung karena takut gempa susulan, sehingga tim medis harus jemput bola ke desa-desa.

Prioritas pemerintah dan kebutuhan di lapangan

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan pemulihan fungsi rumah sakit di wilayah terdampak menjadi prioritas utama. Kementerian Kesehatan menargetkan seluruh rumah sakit yang rusak imbas gempa bisa beroperasi normal paling lambat dalam satu minggu. Di lapangan, petugas tetap membutuhkan dukungan logistik obat, relawan medis, dan alat yang bisa langsung dipakai di tenda darurat.

Bagi masyarakat Surabaya yang mengikuti perkembangan bencana nasional, informasi kebutuhan di NTT ini relevan untuk memahami alur bantuan kesehatan lintas daerah. Fokus utama tetap pada pemulihan layanan primer dan rujukan agar pasien nonkorban maupun korban gempa tidak kehilangan akses perawatan dasar.

Sementara pemulihan infrastruktur berjalan, koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, tim SAR, dan relawan menjadi penentu seberapa cepat fasilitas kesehatan di Flores kembali stabil. Keterbatasan sinyal, kerusakan jalan, dan rasa takut warga terhadap gempa susulan masih menjadi hambatan operasional yang harus diantisipasi dalam setiap pengiriman bantuan.

Sumber: BBC Indonesia.