Breaking News
Indeks
Surabaya

Lajang Surabaya Lirik Kencan Buta usai Jenuh Aplikasi Kencan

Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya, tren mencari pasangan lewat layar gawai perlahan digantikan pertemuan tatap muka. Sejumlah perempuan lajang kini memilih kencan buta setelah merasa kelelahan dengan aplikasi kencan yang sering mengecewakan. Fokus mereka sederhana: menemukan orang baik, bukan sekadar profil menarik di genggaman.

Pergeseran ini tampak jelas di kedai kopi lokal, tempat penyelenggara mengatur pertemuan singkat berpasangan. Peserta datang dengan harapan lebih realistis ketimbang geser kiri-kanan tanpa ujung. Bagi banyak pekerja di kota ini, waktu terbatas membuat cara lama terasa lebih masuk akal.

Alasan perempuan meninggalkan aplikasi kencan

Pengalaman buruk berulang menjadi pemicu utama. Nina, bukan nama sebenarnya, pekerja kreatif berusia 30 tahun asal Malang, sempat mencoba aplikasi kencan namun hampir tertipu. Ia menuturkan ada yang melakukan love bombing hingga meminta salinan KTP. Setelah dua tahun melajang, ia memutuskan datang ke Surabaya akhir Mei untuk mengikuti sesi kencan buta.

Peneliti agama, budaya, dan kesehatan mental Universitas Gadjah Mada, Ladrina Bagan, menilai perempuan kini lebih sadar tuntutan mereka. Yang dicari hanyalah manusia yang layak, orang yang tahu cara memperlakukan sesama dengan benar. Menurutnya, banyak laki-laki belum menyadari pergeseran itu dan masih terpaku pada anggapan lama bahwa perempuan harus patuh.

Ketimpangan kebutuhan di dalam aplikasi memperparah rasa jenuh. Interaksi digital sering terasa dangkal, sementara risiko penipuan atau tekanan identitas membuat ruang aman semakin langka. Kencan buta lalu muncul sebagai alternatif yang menjanjikan kontrol lebih ketat sejak awal.

Suasana sesi kencan buta di kedai kopi Surabaya

Acara yang diikuti Nina digelar Blinddate Indonesia di sebuah kedai kopi Surabaya. Itu merupakan sesi ke-22. Enam meja ditata saling berhadapan. Panitia meminta peserta mengenakan pakaian bernuansa earth tone. Nina datang paling awal dengan kerudung hitam dan blus krem, lalu menunggu di mejanya.

Saat hari mulai gelap, peserta perempuan duduk dengan mata ditutup kain kuning. Peserta laki-laki masuk dengan cara serupa. Setiap orang mendapat waktu sekitar sepuluh menit untuk berbicara sebelum bergeser ke pasangan berikutnya. Suasana riuh tawa memenuhi ruangan; hampir tak ada yang menutup diri meski penglihatan terhalang.

Usai sesi, Nina mengaku merasakan sparks meskipun belum siap memilih satu nama. Baginya, pertemuan itu membuktikan ia tidak sendirian. Banyak perempuan seusianya sibuk bekerja dan kesulitan mengenal orang baru secara alami, sehingga kencan buta menjadi ruang uji keterbukaan diri.

Kurasi ketat demi kesetaraan peserta

Pendiri Blinddate Indonesia, Mahathir Al Afgahani Zein yang akrab disapa Al, menjelaskan sekitar 1.300 orang mendaftar untuk sesi tersebut. Hanya 12 orang lolos—enam perempuan dan enam laki-laki. Proses kurasi melibatkan sekitar sepuluh orang dan memakan waktu 14 hari. Al menekankan kesetaraan finansial, stabilitas ekonomi, kondisi mental, hingga hobi sebagai pertimbangan utama.

Ia menilai kesetaraan penting agar hubungan berjalan sehat. Dalam pandangannya, pernikahan merupakan ibadah jangka panjang sehingga pasangan perlu seimbang sejak awal. Timnya juga menggali ekspektasi setiap pendaftar agar pencocokan lebih tepat. Peserta yang lolos dikenakan biaya sebagai tanda keseriusan, namun Al menegaskan orientasinya bukan profit melainkan idealisme menjodohkan orang yang setara. Gagasan itu digaungkan sejak 2021 dan mulai diwujudkan pada 2023.

Istrinya, Aulia Lestari Rauf, bertindak sebagai MC yang mengatur alur pergeseran peserta. Dengan format tertutup mata, penampilan fisik tidak langsung mendominasi. Percakapan menjadi satu-satunya jembatan pengenalan singkat.

Fenomena sosial dari daring kembali ke luring

Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Desintha Asriani, melihat maraknya jasa mak comblang dan kencan buta sebagai respons pasar. Permintaan tumbuh seiring perubahan dari interaksi daring ke luring. Secara sosiologis, fenomena ini juga mencerminkan kelas sosial karena akses layanan berbayar umumnya dimiliki mereka yang mampu membayar.

Di Surabaya, kota dengan mobilitas kerja tinggi, pola serupa terasa relevan. Banyak lajang produktif kesulitan menyisihkan waktu untuk membangun relasi perlahan. Kencan buta yang sudah dikurasi menawarkan efisiensi sekaligus filter awal. Meski demikian, ruang aman tetap menjadi isu krusial bagi perempuan agar proses pencarian pasangan tidak mengulang trauma digital.

  • Pendaftaran massal diseleksi ketat sebelum hari-H.
  • Durasi obrolan terbatas agar semua peserta mendapat giliran setara.
  • Biaya keikutsertaan diposisikan sebagai komitmen, bukan komersialisasi murni.

Bagi Nina dan peserta lain, langkah meninggalkan aplikasi bukan berarti menolak teknologi sepenuhnya. Mereka hanya mencari jalur yang terasa lebih manusiawi. Di kedai kopi Surabaya itu, sepuluh menit percakapan tanpa tatapan mata menjadi episode awal yang mereka sebut layaknya seri kehidupan—penuh kemungkinan, tanpa jaminan langsung, namun setidaknya berangkat dari niat mengenal orang baik.

Seiring meningkatnya minat serupa di media sosial, model pertemuan terkurasi diperkirakan terus dicoba kalangan lajang urban. Yang tetap perlu dijaga adalah transparansi proses, kesetaraan, dan perlindungan peserta agar harapan menemukan pasangan tidak berujung pengalaman buruk baru.

Sumber: BBC Indonesia.