Kasus pembiusan pejabat Prancis kembali menyita perhatian publik internasional setelah hampir 250 perempuan menuduh seorang petinggi Kementerian Kebudayaan negeri itu memasukkan obat ke minuman mereka saat proses wawancara kerja. Peristiwa yang diduga berlangsung bertahun-tahun itu memunculkan pertanyaan serius soal keamanan ruang profesional bagi perempuan, termasuk di kalangan pembaca di Surabaya yang mengikuti isu kesetaraan dan perlindungan di tempat kerja.
Christian Negre, pejabat senior yang kala itu menangani urusan kebudayaan regional, menjadi pusat tuduhan. Para perempuan yang melapor menggambarkan pola serupa: minuman ditawarkan, tubuh tiba-tiba melemah, dan dorongan buang air kecil yang tak terkendali muncul dalam waktu singkat. Investigasi formal kini menempatkannya dalam proses hukum sambil menunggu sidang.
Pengalaman Anais de Vos di Paris 2011
Salah satu kisah yang diangkat secara terbuka datang dari Anais de Vos. Pada Juli 2011, perempuan berusia 27 tahun itu mengikuti tahap wawancara untuk posisi di Kementerian Kebudayaan di Paris. Negre menawarkan kopi yang ia buat sendiri. Anais, yang jarang minum kopi, hanya menenggak sekitar separuh cangkir karena rasa minuman itu terasa aneh.
Beberapa menit kemudian, Negre mengajaknya keluar gedung. Saat berjalan di kawasan Paris, Anais merasakan kebutuhan mendesak untuk ke toilet. Ia semi-dipaksa menuju tepi Sungai Seine dan sempat diarahkan ke lemari penyimpanan di bawah jembatan. Merasa situasi terlalu mencurigakan, ia bersikeras meninggalkan tempat itu. Mereka lalu menuju Museum Louvre, namun Anais akhirnya kehilangan kendali di sebuah kafe setelah berjam-jam menahan diri. Ia merasa pusing dan lelah sepulang dari pertemuan tiga jam tersebut.
Anais tidak lolos seleksi. Selama bertahun-tahun ia meragukan ingatannya sendiri hingga pada 2019 polisi menghubunginya. Ia baru mengetahui bahwa namanya tercatat di antara ratusan perempuan lain yang diduga mengalami perlakuan serupa.
Daftar Eksperimen P dan Dugaan Obat Diuretik
Penyidik menemukan berkas di komputer Negre yang berjudul Eksperimen P. Dokumen itu diduga memuat nama-nama perempuan, waktu kedatangan wawancara, kapan zat diberikan, berapa lama hingga mereka buang air kecil, serta catatan tentang pakaian dalam yang dikenakan. Polisi menduga zat yang dipakai adalah diuretik, obat yang memicu produksi urin berlebih dan biasa dipakai untuk kondisi medis tertentu seperti tekanan darah tinggi.
Banyak korban baru menyadari kemungkinan mereka dibius setelah dihubungi aparat atau membaca liputan media. Pola yang berulang antara 2009 hingga 2018 membuat jumlah pelapor mendekati 250 orang. Bagi Anais, rasa kopi yang aneh kini ia kaitkan langsung dengan dugaan pemberian diuretik tersebut.
Awal Penyelidikan dan Status Hukum Negre
Penyelidikan terbuka pada Juni 2018 ketika seorang rekan kerja menangkap Negre sedang memotret perempuan dari bawah meja. Insiden itu kemudian dipublikasikan kejaksaan. Negre semi-diskors dari jabatan direktur regional urusan budaya, lalu dipecat pada 2019. Menurut kejaksaan, ia pernah mengakui telah menciptakan situasi memalukan bagi perempuan selama wawancara.
Saat ini Negre, yang berusia 60-an tahun, menghadapi penyelidikan resmi atas dugaan percobaan pembiusan, pelanggaran privasi, dan pelecehan seksual. Ia menunggu persidangan. Melalui pengacaranya, ia menolak memberikan komentar atas seluruh tuduhan yang dilayangkan.
Konteks Kasus Serupa dan Respons Publik
Perhatian terhadap kejahatan pembiusan di Prancis semakin tajam setelah kasus Gisèle Pelicot mencuat, di mana suami korban divonis 20 tahun penjara karena membius istrinya lalu mengundang orang lain untuk memperkosa saat korban tak sadar. Meski pola dan pelakunya berbeda, kedua perkara menguatkan diskusi soal betapa sulitnya korban mengenali dan membuktikan serangan yang melibatkan zat kimia.
Bagi masyarakat Surabaya dan Indonesia secara umum, kasus ini menjadi pengingat bahwa prosedur rekrutmen, termasuk di lembaga negara, harus menjamin keamanan calon pegawai. Pelaporan dini, pendampingan hukum, dan protokol minuman atau makanan dalam wawancara merupakan isu yang layak dibahas di ruang kerja lokal tanpa menunggu skandal besar terjadi.
Para penyintas terus mendorong agar proses hukum berjalan transparan. Anais menegaskan rasa lega saat mengetahui ia tidak sendirian dan ingatannya tidak mengada-ada. Publik menunggu apakah majelis hakim kelak akan menghadirkan putusan yang memberi kepastian bagi ratusan perempuan yang sudah bertahun-tahun menyimpan pertanyaan tanpa jawaban.
Sumber: BBC Indonesia.
