Breaking News
Indeks
Jatim

Teladan Tiga Ulama NU Dibahas di Pesantren Bahrul Ulum Jombang

Suasana keilmuan kembali terasa di lingkungan pesantren Jombang saat bedah buku Jombang digelar di Pondok Pesantren Al Maliki 2 Bahrul Ulum Tambakberas, Jumat 28 Agustus 2026. Forum yang diinisiasi Suluh Nahdliyin itu membahas karya Wasid dan tim berjudul Meneladani Kepemimpinan 3 Kiai: KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri, dengan sorotan pada sosok Gus Muhaimin Iskandar. Bagi pembaca di Surabaya dan sekitarnya, perbincangan ini relevan karena jejaring pesantren Jombang sejak lama menjadi rujukan sosial-keagamaan warga Jawa Timur.

Acara berlangsung di kawasan Tambakberas yang historis bagi Nahdlatul Ulama. Kehadiran pengasuh pesantren, ulama Tebuireng, serta pengamat politik menandai bahwa pembahasan tidak hanya bersifat literer, melainkan juga menyentuh praktik kepemimpinan di ruang publik.

Forum Suluh Nahdliyin di Tambakberas

Suluh Nahdliyin memilih lokasi bedah buku di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas sebagai ruang dialog yang dekat dengan akar tradisi. Buku yang dibahas menempatkan tiga tokoh besar NU sebagai cermin cara memimpin: keteguhan prinsip, kecakapan berorganisasi, dan kepekaan terhadap umat. Diskusi ini menjadi kesempatan menautkan teks dengan pengalaman pesantren sehari-hari.

Para peserta mendapatkan paparan tentang bagaimana nilai-nilai para kiai dapat dibaca ulang tanpa kehilangan konteks zaman. Pendekatan itu dinilai penting agar generasi muda nahdliyin tidak hanya mengenal nama tokoh, tetapi juga memahami pola pikir dan sikap yang mewarnai perjalanan organisasi.

Narasumber dari Pesantren dan Pengamat

Diskusi menghadirkan Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas KH Azam Khairuman Najib atau Gus Heru, Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng KH Mustain Syafi’i (Kiai Tain), serta pengamat politik Hendri Satrio. Komposisi narasumber memadukan perspektif internal pesantren dan bacaan politik kontemporer.

Gus Heru menekankan bahwa buku tersebut mencoba membaca sosok Cak Imin dari banyak sudut, termasuk melalui tokoh-tokoh yang menjadi panutan kepemimpinannya. Ia menyoroti gaya santai Gus Muhaimin yang tetap terhubung dengan warisan keulamaan di belakangnya, sehingga pembacaan tidak berhenti pada citra permukaan.

Jejaring Pesantren Jombang sebagai Latar

Menurut Gus Heru, latar genealogis Gus Muhaimin tidak lepas dari jejaring pesantren besar di Jombang, khususnya Tambakberas, Tebuireng, dan Denanyar. Karena itu, ia memandang figur tersebut dapat dibaca sebagai representasi dari tiga lingkungan pesantren yang saling terkait dalam sejarah NU di Jawa Timur.

Bagi warga Surabaya yang kerap bersinggungan dengan komunitas nahdliyin, penegasan itu memperjelas mengapa isu kepemimpinan berbasis pesantren tetap hidup di ruang publik. Nilai yang diwariskan KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri diposisikan sebagai rujukan moral sekaligus praktis, bukan sekadar nostalgia sejarah.

  • KH Hasyim Asy’ari: keteguhan keilmuan dan fondasi keumatan
  • KH Wahab Chasbullah: kecakapan organisasi dan strategi kebangsaan
  • KH Bisri Syansuri: kehati-hatian fikih dan disiplin kelembagaan

Makna bagi Pembaca Jawa Timur

Bedah buku di Jombang memperlihatkan bahwa kajian kepemimpinan ulama masih menjadi kebutuhan di tengah dinamika politik dan sosial. Forum semacam ini memberi ruang bagi santri, pengajar, dan masyarakat umum untuk menimbang ulang arti keteladanan tanpa terjebak polarisasi sesaat. Keterlibatan pengamat politik juga membuka dialog antara tradisi pesantren dan cara membaca kekuasaan hari ini.

Ke depan, diskusi serupa berpeluang memperluas literasi kepemimpinan berbasis nilai di kalangan nahdliyin Surabaya dan Jatim. Selama fakta sejarah dan konteks pesantren dijaga, pembacaan terhadap tiga kiai tersebut tetap menjadi sumber inspirasi yang hidup, bukan slogan kosong. Acara di Tambakberas menjadi satu potret bagaimana buku dapat menjadi jembatan antara warisan ulama dan kebutuhan publik masa kini.

Sumber: Sindo News.

Tag: bedah buku Jombang, Tambakberas, Bahrul Ulum, Gus Muhaimin, tiga kiai NU, pesantren Jombang, Suluh Nahdliyin, Jawa Timur